Sketsa Malam

Malam…

menghantarkan kita pada sebingkai sketsa…

sketesa tentang kisah…

kisah resah dua, tiga rimbunan resah…

 

Malam…

Ah,

Mengapa kau hantarkan resahmu…

dalam kilau gemilau pekat malam…

tanpa sepasang nala…

 

Malam…

Kau bilang apa???

aku ini hanyalah bintang yang bertengger di ujung malam

tak ada niat menceracaumu,

malam…

 

Malam…

Di rimba mana hendak kita tukangi kesalahan?

ke salahan yang sudah terlanjur terlontar

agar kiranya lebih bait dialog kita di sketsa malam…

 

Malam…

Hanya satu…

Jangan pernah hancurkan sketsa…

 

Malam…

ah…

Leave a comment »

DIA SAHABATKU…

DIA SAHABATKU…

Namanya Amanda Zahra,

Sahabat kecilku yang selalu mengisi hari-hariku. Aku kenal dia sejak duduk di bangku sekolah dasar. Aku selalu bermain bersama dan tertawa bersamaya. Manda, itulah panggilan akrabnya. Dia sahabat yang selalu mengatakan bahwa aku adalah orang yang pelit. Namun setiap dia berkata begitu, aku hanya tersenyum sambil mengatakan, “Aku nggak pelit, cuma malas ngasih aja”. Manda sering datang ke rumahku, begitu pula aku sering main ke rumah Manda. Jarak rumah kami trebilang dekat. Ayah, kakak, adik, dan abang Manda sudah sangat mengenal aku dekat. Begitu Pula keluargaku [un telah mengenal dekat Manda sahabatku. Aku dan dia selalu curhat ketika bertemu. hmm, Laki-laki dan pacar… itulah topik utamanya…

 

Dia Sahabatku,

Waktu mengajakku menjadi seorang akhwat. saat itulah aku dan dia tidak terlalu akrab. Dunia kami sudah berbeda, dia dengan kemoderanannya, sedang aku dengan segudang aktivitasku sebagai aktivis dakwah. Walau begitu, setiap bersepapasan di jalan, kami saling tersenyum dan bertegur sapa.

 

Dia sahabatku,

Dua kali lebaran aku tidak berkunjung ke rumahnya. Ah, maafkan aku kawan. bukan tak hendak aku datang, tapi ada segan dalam hatiku, juga canggung karena kita sudah lama tak bersimukaan secara dekat…

 

Dia sahabatku,

Senang hatiku mendengar berita bahwa dia akan menikah. akhirnya dia temukan pangeran impiannya itu. Bertunanganlah ia. Bahkan sampai dia bertunangan pun aku tak mengahdirinya…

tapi, biarlah rasa senang dan doa ku kirimkan lewat semilir rindu…

 

Dia Sahabatku,

13 November itu.. saat aku sedang latihan musikalisasi puisi,

Ibu menelponku dan mengatakan sebuah kabar duka padaku…

kabar duka yang bagai petir di siang bolong…

“Ira, Manda Meninggal…”

Hendak jatuh handphoneku saat itu…

Alloh, ingin rasanya aku segera pulang dan datang ke rumah duka

tapi apalah daya, aku tak bisa…

 

Undangan sudah di cetak, tempat tidur sudah di antar, semua perangkat telah di persiapkan, pakaian juga sudah selesai dijahit…

tapi rencana tinggal rencana…

26 Desember akhirnya hanya tinggal kenangan…

 

Pangeranmu itu, Manda…

Betapa setia dia mendampingimu disebelahmu,

sambil sesekali dia terisak, kemudian menatap dan mengusap lembut kepalamu…

sesekali disekanya air matanya…

lalu dilantunkannya ayat Alloh…

 

DIA SAHABATKU…

Namanya Amanda Zahra…

Alloh, berikan dia tempat yang paling nyaman di sisimu…

 

(teruntuk sahabatku, Amanda Zahra

22 Juli 2010, Wafat 13 Desember 2010, dua minggu sebelum kau menuju pelaminan…

Alloh, aku rindu Manda…)

Leave a comment »

Toba, Alloh Maestromu… (Sebuah Muhasabah Alam)

Subhanalloh,

itulah kata pertama yang terucap dari bibir ini ketika untuk kesekian kalinya kuinjakkan kakiku di tempat yang indah ini Tempat yang bila kita pandang akan menenangkan hati, jiwa, dan menentramkan pikiran kita. Membuat yang penat jadi segar, yang sedih jadi senang, yang muram jadi cerah, dan yang jengah jadi sumringah. Toba, itu sapaan orang kepada tempat nan indah ini. Sejauh mata memandang, tak hentinya aku melempar decak kagum atas ciptaan Alloh yang merupakan danau terbesar di seluruh dunia.

 

Sejauh mata melempar pandang, tampak lah hamparan perbukitan yang hijau, pepohonan, bebatuan, kapal-kapal yang datang dan pergi, serta riak air danau yang menambah damai dan sejuk di hati. Ku pilih menyusuri danau dengan menggunakan bebek dayung bersama teman-teman sekelasku. Satu bebek tiga orang. Selama penyusuran itu, tak hentinya aku tersenyum memandang sekelilingku. Subhanalloh, betapa Alloh itu Maha besar, Maha Suci, Pencipta yang paling hebat dan indah ciptaannya, tiada yang bisa mengalahkan kuasaMu, Ya Rabb…

 

Subhanalloh,

Itulah kata yang kemudian lagi terucap. Betapa Alloh begitu hebat menciptakan danau yang luas, besar, dan indah. Betapa Alloh maha Kuasa telah menciptakan kemesraan yang harmonis antara bukit, bebatua, pepohonan, pasir, dan air danau yang saling cumbu bermunajat menciptakan harmoni alam di bawah naungan Alloh.

 

Toba,

Ciptaan Alloh, Maha Karya Alloh yang paling indah dari sekian banyak keindahan ciptaan Alloh

Toba,

Alloh Maestromu…

 

 

25 dua belas 10

ku titipkan rindu diantara munajatku pada Alloh

tentangmu,

Toba…

Leave a comment »

Antologi Puisi FLP SUMUT “NUUN”

nuun…
wal qalami wa ma yasthuruun…
(nuun, demi kalam dan apa yang mereka tulis)

Persembahan FLP SUMUT untuk pecinta sastra…

Alhamdulillah terbit juga…

untuk penikmat secangkir sastra,

jangan lupa tambah koleksi anda dengan membeli buku ini…

(pst…! ada karya saya juga loch ^_^)

Leave a comment »

Kado Milad dari Bang HASAN AL BANNA (Penyair dan Seniman Medan)

25 Maret 2010 puisi ini datang…

ketika umurku genap 20 tahun…

Cermin

entah. pada waktu yang senyap

aku kembali gagal menghitung daun-daun usiamu

berapa gugur berapa subur

demikiankah? kegelisahan seperti gerombolan embun

mendadak menyergap

lekas pula menguap

nian. beribu gerbong berita tetap mengangkut

beling petuah

menujumu. mendaki tubuhmu yang tak obah

seoleng pohon kerontang

maka kau pun mengutip seranting doa

sebab menghalau tumbang

cuma angan-angan tangan

oi. sungguh tak dapat lagi kau beberkan

makna telanjang

pada pakaian yang tersangkut di pundak pintu

hei. tirai jendela bergambar apa

selain potret cangkir renta

untuk apa ia setia merawat ampas kopi

di perut nyeri?

ah. kian terseret kau ke siku kamar

dada berdebar

adakah isyarat keberanian yang memudar?

ei. mengapa kau lupa cara berkelahi

menakluk waktu

sedang hendak menyelinap ke balik tubuh

kau juga tak mampu!

jangan kau kaku

wujudmu jangan serusuk batu.

Comments (1) »

Resensi Novel BUMI CINTA : PERJALANAN IMAN SEORANG SANTRI SALAF

Judul                      :  Bumi Cinta

Penulis                   :  Habiburrahman El Shirazy

Penerbit                :  Basmala

Cetakan                               :  1, 2010

Tebal                      :  546 halaman

Harga                     :  Rp. 55.000,00

Siapa yang tidak mengenal sosok Habiburrahman El Shirazy atau yang biasa disapa akrab dengan sebutan Kang Abik. Penulis yang mendapat julukan si tangan emas ini memang begitu piawai dalam meramu sebuah karya dan lewat karyanya, beliau mampu mengguncang jagad sastra di Indonesia. Setelah sukses dengan karya-karya fenomenalnya, seperti Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, dan berbagai karya hasil ramuannya, kini penyair multitalent ini kembali melahirkan sebuah karya terbaru berjudul “Bumi Cinta”, yang tidak kalah hebat dengan novel-novel spektakuler sebelumnya. Sebuah novel yang menceritakan tentang seorang pemuda sholeh dan genius dalam mencapai cita-citanya di negara yang paling menjunjung tinggi pergaulan bebas dan terkenal dengan sebutan negara komunis Rusia, khususnya kota Moskow.

Perjalanan Ayyas dimuali ketika Ia tiba di kota Moskow dan disambut hangat oleh teman lamanya, David. Temannya inilah yang kemudian mencarikan tempat tinggal Ayyas selama dia tinggal di Moskow. Dengan alasan keterbatasan biaya yang dimiliki Ayyas dan lokasi apartemen yang startegis, David hanya mampu mendapatkan sebuah apartemen yang di dalamnya Ayyas harus tingal bersama dengan orang lain. Tanpa disangkan dan di duga Ayyas, tenyata teman seapartemennya itu adalah dua perempuan berparas jelita, seperti tsarina Rusia. Disinilah episode awal pergolakan hati dan iman Ayyas bermula.

Dua perempuan itu adalah Yelena, pelacur kelas kakap dan terkenal di kota Moskow, dan Linor, perempuan cantik yang pandai bermain biola, dan pada akhirnya diketahui adalah anggota agen teroris Mossad. Apartemen yang hanya memiliki tiga kamar itu mengharuskan Ayyas untuk selalu berinteraksi dengan kedua perempuan ini, baik di dapur, ruang tamu, dan ruang keluarga. Ini adalah godaan keimanan yang sangat dahsyat bagi Ayyas, dimana Ia harus mempertahankan kesuciannya sebagai seorang muslim. Belum lagi dia harus di bimbing oleh asisten dosen pembimbingnya selama di Rusia. Seorang perempuan cantik, pintar, dan penganut kristen orrodoks bernama Anastasia Palazzo. Pertemuan yang intens itu akhirnya menimbulkan rasa cinta dalam diri Anastasia kepada Ayyas.

Sebagaimana novel sebelumnya, Bumi Cinta sarat degan muatan dakwah. Kisah romansa berbalut nilai dakwah ini disajikan dengan apik dan asyik untuk dinikmati. kang Abik juga menyelipkan kisah Sabra dan Sathila yang merupakan kisah pembantaian zionis atas muslim Palestina. Kang Abik juga mampu menggambarkan kota Moskow sangat detail, dari lokasi-lokasi strategis, gedung-gedung bersejarah, makanan khas Rusia, metro yang merupakan kebanggaan masyarakat Moskow, gaya hidup masyarakat di sana, serta hal lainnya, semua digambarkan dengan sangat jelas dan mendetail. Kutipankutipan bahasa Rusia juga benar-benar mampu menghanyutkan pembaca seakan seperti berada di negara Rusia.

Ada satu hal yang terasa sangat monoton. Di dalam novel ini, lagi-lagi Kang Abik menampilkan tokoh yang terlalu sempurna di dalam novel ciptaannya. Muhammad Ayyas memang dikisahkan tidak tampan dan juga tidak jelek, namun ia sangatlah cerdas, saleh, tawadhu, memiliki kepekaan sosial yang luar biasa, sangat romantis dan sifat-sifat baik lainnya. Bahkan berkali-kali Ayyas digambarkan menangis akan hal-hal yang ia anggap merupakan dosa atau mendekati dosa, dan mengapa yang terpikat kepada Ayyas seluruhnya merupakan wanita-wanita cantik? Tapi, itu tidak masalah.

Keunikan lainnya adalah akhir kisah dalam novel spiritual ini dibuat menggantung, yaitu ketika Linor ditembak oleh agen Mossad setelah ia berhijrah ke Islam. Hingga halaman terakhir tidak diketahui apakah Linor ini akan mati atau selamat. Sangat spektakuler dan membuat penasaran. Disinilah kisah Ayyas berakhir dan harapannya cintanya bermuara pada bumi cinta, yaitu surga. Two tumbs up lah untuk Kang Abik! ^_^ (Rai)

Leave a comment »

Afifah dan Malam berdarah di Pandan

Pandan ,pantai termahsyur di kota Belanga, Sibolga. Keindahan panorama pantai dengan pulau Situngkus di tengah-tengahnya itu membuat siapapun yang melihatnya pasti berdecak kagum, Sibolga, surganya para nelayan. Pandan, tempat nelayan bergumul mencari ikan, dan Pandan…tempat semua orang bersuka cita bersama keluarga tercinta. Tapi tidak untuk dia…
Langit di ufuk barat Pandan sore itu semburat jingga, tanda sang surya akan pergi dari pelukan sang alam, berganti malam bertemankan rembulan dan bertabur bintang gemintang. Sore itu, cerah ceria terlukiskan di panggung langit pantai Pandan. Namun, keceriaan panggung langit dan keindahan Pandan bukanlah lagi miliknya. Dia tidak tahu kapan terakhir kali ia menikmati keindahan Pandan, bahkan dia tidak perduli lagi dengan keceriaan yang dimainkan oleh orkestra langit di sore hari, seperti hari ini. Pandan memang tempat tinggalnya, tapi pandan juga menjadi neraka baginya. Afifah namanya. Gadis bisu anak nelayan yang telah lima tahun di tinggal ibunda tercinta menghadap Sang Pencipta. Seperti hari-hari biasanya, setiap sore ketika semburat jingga menghiasi langit, Afifah duduk di tepian pantai sambil memandang lepas kearah lautan. Tatapannya kosong, seolah ia hendak berbicara kepada laut, tapi laut tak mengerti apa yang di katakan Afifah. Di tangan kanannya tergenggam selembar foto, foto sang bunda tercinta. Nanar ditatapnya foto itu, seketika bulir bening jatuh membasahi pipinya. Ia rindu bunda. Dalam hatinya tersirat keinginan untuk segera menyusul bunda, tapi entah kapan waktu itu datang. Nun dari kejauhan, Afifah melihat segerombolan perahu nelayan mendekat. Diantara gerombolan perahu itu, dia melihat sebuah perahu yang sangat ia kenal. Perahu itu? Perahu lelaki itu. Lelaki yang telah membuatnya menganggap Pandan sebagai neraka. Lelaki itu, lelaki itu adalah ayahnya. Lelaki itu lalu turun dari perahunya menghampiri Afifah. Wajahnya hitam legam, perawakannya kasar, dan matanya seperti elang yang hendak mencengkram mangsanya.
“Plak!!!.” Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Afifah.
“Sedang apa kau disini, heh? Apa sudah tidak ada lagi yang bisa kau kerjakan di rumah sehingga kau enak-enakan bersantai disini, sementara aku di tengah laut sana mencari uang…, menantang ombak?!! Pulang kau!!!” Bentak lelaki itu pada Afifah sambil menarik paksa rambutnya. Begitulah tingkah laku lelaki itu setiap hari pada Afifah sejak ia di tinggal mati istrinya. Afifah sering di tampar, di tendang, di kurung dalam kamar mandi, dan di sulutnya dengan puntung rokok yang masih menyala. Afifah menangis kesakitan. Namun, bila lelaki itu mendengar Afifah menangis, keamarahannya semakin menjadi-jadi. Untung saja di rumah, Afifah tidak sendiri, ada Etek Rasidah yang menjadi pembelanya. Etek Rasidah adalah kakak sepupu ibunya yang sangat menyayangi Afifah seperti anak kandungnya sendiri, sebab sejatinya etek Rasidah tidak memiliki anak. Karena tidak bisa memberikan keturunan itulah makanya etek Rasidah di tinggal pergi oleh suaminya yang menikah lagi dengan wanita lain dan kini tinggal di pedalaman Barus.
“Rasidah! Rasidah!.” Teriak lelaki itu sambil mengetuk pintu dengan keras.
“Sebentar!.” Jawab etek Rasidah dari dalam rumah. Tak lama, pintu pun terbuka. Lelaki itu kemudian mencampakkan Afifah ke lantai, sehingga Afifah tersungkur.
“Ada apa ini, Badrun? Memangnya apa salah si Afifah sampai kau perlakukan dia seperti ini?! Apa kau sudah lupa, si Afifah ini anak kandung kau, Badrun! Apa pantas kau berbuat seperti ini padanya?”
“Apa salahnya kata kau? Lamak inyo duduk di pantai tu samantara ambo malauik di pantai nun mancari kepeng! Apo indak ado lai karajonyo di rumahko!”
“Ambo nang ala mangarajokan sadonyo. Jadi kau indak perlu mambantai si Afifah macam ko!”
“Alah! Kau belalah terus si bisu yang tak berguna itu! Kalau aku tau akhirnya akan punya anak yang seperti ini, lebih baik waktu dia masih bayi merah kubunuh saja dari pada membuat susah seperti ini!”
“Badrun! Jaga bicara kau! Sudahlah Afifah, ayo ikut etek ke kamar.”
Etek Rasidah lalu membawa Afifah ke kamarnya, dan pertengkaran itu pun berakhir begitu saja. Di dalam kamar, Afifah terus menangis di dalam pelukan etek Rasidah. Etek Rasidah mendudukkan Afifah di sisi ranjang. Afifah hanya terdiam sambil menunduk. Yang di pikirkannya kala itu adalah mengapa bapaknya sangat membencinya? Apa sebenarnya salahnya? Kenapa bapaknya tega mengatakan kalau dia tak berguna? Apa karena dia bisu? Kalau saja dia boleh memilih, ia lebih memilih tidak terlahir ke dunia ini dari pada mendapatkan perlakuan kasar dari lelaki hitam legam itu. Tamparan lelaki bernama Badrun yang tak lain adalah bapak kandungnya itu, meninggalkan bekas lima jari di pipi putih Afifah. Etek Rasidah yang menyadari ada keanehan di pipi Afifah sertamerta bertanya pada gadis bisu nan malang itu.
“Kenapa pipimu, Fah?” Tanya etek Rasidah pada Afifah. Afifah hanya menjawab dengan gelengan. Etek Rasidah mendongakkan wajah keponakannya itu dan menatap dalam ke bola mata hitam milik Afifah. Sayu…, tak ada warna di sana. Yang ada hanya kesedihan. Pelan, etek Rasidah menyingkirkan tangan kanan Afifah yang sedari tadi menutupi pipinya. Darah etek Rasidah berdesir saat melihat bekas tamparan di wajah Afifah.
“Kenapa pipimu merah begini?.” Tanya etek Rasidah. Afifah tidak menjawab. Dia hanya menggeleng sambil terus menunduk. Sejatinya, tanpa di beritahu Afifah pun soal perkara sebab pipinya merah itu, etek Rasidah sudah mengetahui bahwa itu adalah bekas tamparan Badrun.
“Kane hampok lai?” Tanya etek Rasidah lagi. Gadis bisu itu hanya mengangguk sambil terus memeluk erat etek Rasidah.
“Sudah, sekarang tidurlah disini. Tidak akan terjadi apa-apa selama etek ada di sampingmu. Sudahlah, jangan menangis lagi.” Afifah lalu terlelap di pangkuan etek Rasidah. Matanya terpejam, namun ruhnya melayang mengembara ke alam mimpi. Ingin rasanya ia bertemu dengan ibunda tercinta walau hanya dalam mimpi. Malam itu, rembulan di langit pandan bersinar terang. Namun bintang tidak beramai-ramai berkumpul di panggung langit. Hanya ada satu bintang terpaku di samping sang rembulan. Nasib sang bintang sama seperti Afifah, sendirian…, tak punya teman. Hanya etek Rasidah yang setia menemaninya kala suka dan duka. Tapi sampai kapan etek Rasidah ada di sampingnya? Entahlah. Biarkan waktu yang menjawab. Sayup-sayup dalam keterlelapannya, Afifah mendengar suara langkah kaki dan derit pintu di buka. Lelaki itu, dia akan berangkat lagi menentang laut. Setiap hari ia berangkata kala malam menjelang, dan kembali ke rumah kala semburat jingga menghiasi langit pandan. Kalau pun dia pulang, itu hanya sebentar. Cuma sekedar untuk melepas lelah sambil menghabiskan barang dua tiga batang rokok dan menenggak segelas kopi. Setelah itu, dia akan pergi kembali menaklukkan laut dengan membawa serta perahu dan jala tua kepunyaannya, seperti malam ini…

***
Di ufuk timur sang mentari tersenyum malu, hendak menyapa seluruh alam. Ceracau burung turut bersuka cita, menyambut datangya pagi yang damai. Pagi memang damai, tapi tidak dengan hati Afifah. Hatinya pilu dan luka. Kembali batinnya teringat pada sang bunda, dengan sejuta kenangan indah yang di tinggalkannya. Dahulu, ketika ibundanya masih hidup, setiap pagi Afifah selalu membantu ibunya membuat panukkuk, mie gomak, dan sate kerang untuk di jajakan di sekitar pantai Pandan. Tapi sekarang, semuanya telah menjadi kenangan, karena ibunda telah tiada bersamanya. Hati Afifah miris jika mengingat sebab kematian ibundanya. Ibundanya meninggal setelah dibunuh oleh seorang penjahat bertopeng, yang sampi saat ini, Afifah tidak mengetahui siapa penjahat bertopeng hitam itu. Malam hari ketika peristiwa tragis itu, Badrun sang ayah belum pulang melaut. Afifah masih sangat kecil ketika itu. Umurnya baru dua tahun. Saat Badrun sampai di rumah, dia sangat terkejut melihat istrinya telah terkapar lemas bersimbah darah. Afifah kecil hanya terdiam menangis sambil berdiri di sudut pintu. Air mata Afifah seketika berlinang mengingat kejadian yang merenggut nyawa ibundanya tercinta itu. Dalam hati Afifah bertekad akan membalaskan dendam kematian ibundanya. Tiba-tiba, dia teringat etek Rasidah. Kemana perempuan itu? Afifah lalu turun dari ranjang menuju dapur. Ternyata etek Rasidah ada disana sedang memasak panggang geleng.
“Kau sudah bangun!” Seru etek Rasidah ketika melihat Afifah telah berdiri di hadapannya. Afifah menjawab dengan anggukan. Afifah lalu duduk di kursi kayu dekat tungku sambil memandang etek Rasidah yang tengah memasak. Perempuan itu, mirip sekali dengan ibunya. Penuh kelembutan dan bersahaja. Dia seperti melihat wajah ibunda di diri etek Rasidah. Kemudian Afifah berdiri menuju ke arah jendela yang berhadapan dengan lautan luas. Dilepaskannya pandangan menghadap lautan. Dimana lelaki itu? Sedang apa dia? Batin Afifah dalam hati. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Afifah sangat menyayangi Badrun, ayahnya. Walaupun Badrun selalu menyiksa, memaki, dan memarahinya setiap hari. Dahulu, sebelum ibundanya meninggal, ayahnya tak pernah berlaku kasar seperti saat ini pada Afifah. Dia sangat baik, penyabar, dan penyayang. Dia juga sangat suka mengajak Afifah berlayar menikmati keidahan laut barang sekali seminggu. Tapi sekarang, sejak kematian ibunya, ayahnya berubah menjadi bengis. Entah setan apa yang merasukinya sehingga perlakuannya kepada Afifah menjadi kasar.
“Apa yang tengah mengganggu pikiranmu, Fah?” Tanya Etek Rasidah. Afifah hanya menggeleng.
“Kau merindukannya? Kau merindukan ayahmu?” Tanya etek Rasidah lagi. Kini Afifah menjawab dengan anggukan. Dialihkannya lagi pandangan ke laut. Samar-samar, Afifah melihat sebuah perahu dari kejauhan. Lelaki itu? Dia sudah pulang? Tapi, mengapa cepat sekali dia pulang? Padahal jingga belum bersemburat di panggung langit. Dari kejauhan Afifah bisa melihat raut wajah lelaki itu. Raut wajah kasar dan beku, bukan hanya itu. Ada yang berbeda pada wajah lelaki itu hari ini. Api seakan membara di wajahnya. Sepertinya dia sedang kesal dan marah. Biasanya puntung rokok yang sudah mengecil itu selalu terselip di bibirnya ketika dia pulang. Tetapi kali ini, puntung rokok itu tidak terselip di bibir hitamnya. Dia semakin mendekat dan akhirnya lelaki itu sampai ke rumah. Dia lalu masuk ke kamar dan menutup pintung dengan keras. Lalu dia keluar lagi menuju ke dapur. Dada Afifah kala itu berdegup kencang. Dia takut sekali. Perasaannya mengatakan kalau lelaki itu pasti sedang ada masalah dan sepertinya akan memarahinya. Badrun duduk di bangku dekat tungku yang sebelumnya di duduki Afifah.
“Kenapa cepat kau pulang, Badrun? Biasanya ketika senja kau baru pulang. Tapi kenapa kali ini, senja belum tiba, tapi kau sudah pulang.” Tanya etek Rasidah pada lelaki itu.
“Jangan sok perduli kau, Rasidah! Urus saja urusanmu sendiri!” Jawabnya setengah membentak, sambil kemudian menyalakan rokoknya dan membuang asapnya ke udara. Sesaat kemudian, lelaki itu terdiam. Wajahnya tetap dingin dan penuh amarah. Dia lalu berdiri menuju meja makan. Tiba-tiba…
“Brakkkk!!!” Lelaki itu membanting meja sekuat-kuatnya sampai kaki meja itu patah. Afifah dan etek Rasidah tersentak kaget dibuatnya.
“Dasar anak pembawa sial! Ini semua gara-gara kau!” Bentaknya pada Afifah. Dia lalu bangkit menuju tempat Afifah berdiri. Kemudian, dia menjambak rambut Afifah, menamparnya, menendangnya, meninju, lalu dia campakkan Afifah sampai terpental ke lantai. Darah mengalir dari bibir Afifah karena tamparan lelaki itu begitu keras. Afifah menangis terisak menahan sakit. Sekujur tubuhnya memar membiru.
“Ada apa kau ini. Badrun?! Ala gilo kau! Si Afifah tidak ada salah apa-apa, tiba-tiba kau hantam dia seperti ini! Kenapa kau, Badrun?!” Bentak etek Rasidah pada lelaki itu sambil memeluk Afifah yang tengah menangis menahan sakit.
“Sudah dua hari aku melaut, aku tidak mendapatkan ikan seekorpun! Ini semua karena dia! Dia ini pembawa sial! Dia yang membuatku tidak mendapatkan ikan! Kau…, kau sama saja seperti ibumu! Dasar pembawa sial!”
“Badrun! Kalau kau tidak mendapatkan ikan, itu bukan salah Afifah! Itu karena tadi malam terang bulan, makanya tangkapanmu tak ada seekorpun!”
“Alah! Dia memang anak pembawa sial! Sekali sial, tetap sial!”
“Badrun! Jaga bicaramu!”
Afifah melepaskan dirinya dari pelukan etek Rasidah dan berlari keluar, kearah laut. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. Dia tidak pernah menyangka kalau ayahnya akan mengatakan semua yang di dengarnya tadi. Bahkan ayahnya juga mengatakan kalau dia sama seperti ibundanya, pembawa sial. Dia sudah tidak kuat lagi menahan semua penderitaan ini. Dia ingin pergi sejauh mungkin, agar dia bisa terbebas dari siksaan ayahnya yang teramat sangat menyakitkan baginya. Tangisnya pecah di tepian pantai. Ombak seakan tau gejolak di dada gadis bisu itu. Tekadnya sudah bulat, dia ingin pergi dari neraka ini selama-lamanya. Tapi, Afifah tak tau harus kemana langkah kakinya ia bawa. Tak lama, lelaki itu keluar lagi dari rumah, masih dengan raut wajah yang sangar. Dia berdiri dari kejauhan menghadap Afifah.
“Hei anak pembawa sial! Semoga kau cepat mati! Karena aku tidak ingin lagi melihat wajahmu di hadapanku!” Teriak lelaki itu dari kejauhan sambil membawa serta jala tua kepunyaannya dan perahu miliknya. Tatapannya tajam memandang lelaki itu. Kebencian tiba-tiba saja merasuk sukmanya. Tidak ada lagi rasa sayang dan cinta baginya untuk lelaki hitam legam itu. Yang ada hanya kebencian, kebencian yang timbul karena perbuatan lelaki itu yang sangat merobek-robek hati dan perasaannya. Tunggu saja saatnnya tiba. Kau akan mati. Kau akan mati di tanganku, putrimu sendiri. Batin Afifah dalam hati.
***
Hari lepas hari, bulan lepas bulan, tahun lepas tahun, tak terasa dua tahun sudah lelaki itu tak jua kembali ke rumahnya. Selama kepergian lelaki itu, entah mengapa Afifah merasakan bahagia dan tenteram hidup di Pandan. Selama Badrun pergi, Pandan kembali menjadi surga baginya. Semburat jingga di ufuk barat Pandan-kini telah kembali menyejukkan sukmanya. Etek Rasidah kini juga telah lega karena akhirnya Afifah telah tersenyum kembali. Sore itu, seperti biasa Afifah duduk di tepian pantai menikmati keidahan panggung langit di kala senja menjelang. Ketika sedang asyik menikmati pemandangan senja hari itu, tiba-tiba dari kejauhan Afifah melihat sebuah kapal boat medekat menuju arah rumahnya. Kapal boat itu semakin dekat, semakin dekat, dan betapa terkejutnya Afifah ketika melihat seseorang yang turun dari kapal itu. Lelaki itu, dia telah kembali. Tapi, dia tidak sendiri. Dia membawa serta seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dengan etek Rasidah. Siapa perempuan yang menggandeng tangan ayahnya itu? Apakah dia itu istri baru ayahnya? Tanda tanya besar berkelebak di benak Afifah. Jika benar perempuan itu istri baru ayahnya, maka dia tidak akan pernah menerima itu semua. Sebab bagi Afifah, tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibunya dalam hatinya. Lelaki itu mendekati Afifah. Lutut Afifah seketika bergetar. Dia tidak berani memandang wajah lelaki itu. Lelaki itu lalu mengangkat dagu Afifah. Ditatapnya wajah Afifah dalam-dalam, lalu dia tersenyum sambil mendengus.
“Masih hidup kau ternyata! Ayo kukenalkan kau dengan ibu barumu!” Lelaki itu lantas menarik tangan Afifah dengan kasar. Dia belum berubah, bahkan semakin kasar.
“Siapa dia, Bang?” Tanya perempuan itu.
“Dia Afifah, anakku.”
“Oh, Afifah. Nama yang cantik. Secantik orangnya.”
“Iya, cantik. Tapi sayang, bisu! Pembawa sial! Sudahlah, ayo kita istirahat di rumah. Biarkan saja si bisu ini disini.”
Lelaki itu pun berlalu dari hadapan Afifah sambil menggandeng istri barunya. Sampai kapanpun, Afifah tidak akan mau menganggap perempuan itu sebagi ibunya. Darahnya semakin mendidih ketika mendengar kata-kata yang dilontarkan ayahnya sesaat sebelum meninggalkannya tadi. Kebenciannya semakin menjadi-jadi. Dua buah bulir bening jatuh dari sudut pipi Afifah. Malam telah menjelang. Rasanya tidak ingin Afifah kembali ke rumah. Dia ingin berkeluh kesah dengan laut, dan mencurahkan segala gundah gulananya pada malam. Afifah tersentak ketika seseorang dengan lembut membelai rambutnya.
“Sudah malam, Afifah. Di sini dingin! Nanti kau masuk angin. Ayo masuk!” Dia etek Rasidah. Matanya sembab. Sepertinya dia habis menangis. Tapi kenapa? Apa yang terjadi pada etek Rasidah sampai dia menangis? Lama Afifah memandang wajah perempuan itu. Wajahnya pias. Senyum yang selalu tersungging di bibirnya, entah mengapa hari ini senyuman itu hilang dari wajah etek Rasidah.
“Afifah, apa kau menyayangi ayahmu?” Tanya etek Rasidah. Afifah terkejut medengar pertanyaan etek Rasidah itu. Kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu? Afifah lalu mengambil sebatang kayu, dan menuliskan sesuatu di atas pasir
Iya, aku sangat menyayanginya
“Apa kau menyukai perempuan yang di bawa ayahmu tadi?”
Tidak
“Apa kau mau dia jadi pengganti ibumu?”
Tidak. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibu di hatiku
“Kalau begitu, bunuh mereka!”
Apa?!!! Afifah benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh etek Rasidah padanya. Membunuh?!! Bagaimana bisa dia membunuh lelaki itu? Walaupun pernah terbesit keinginan untuk membunuhnya di benak Afifah, namun sungguh Afifah tak berani melakukan itu.
Kenapa aku harus membunuh mereka? Tulis Afifah lagi.
“Kau membenci ayahmu kan?”
Ya
“Bukankah ayahmu sering menyiksamu?”
Ya
“Ayahmu akan terus menyiksamu, Afifah. Kalau dia masih ada di dunia ini, hidupmu tidak akan pernah tenang. Kau sudah merasakan sendiri kan! Ketenangan itu datang padamu justru di saat ayahmu pergi. Karena itu Afifah, bunuh dia!”
Sejenak Afifah berpikir. Apa yang dikatakan etek Rasidah ada benarnya. Ketika ayahnya tidak ada di rumah, hidupnya begitu damai. Dia tidak ingin tersiksa lagi. Afifah tidak mau terus menderita didera nestapa berkepanjangan karena perlakuan bengis ayahnya. Keinginan untuk membunuh itu muncul kembali di pikiran Afifah. Malam ini, hidup lelaki itu akan berakhir. Seperti apa yang ada dalam batin Afifah dahulu ketika lelaki itu pergi meninggalkan Afifah, nyawanya akan berakhir di tangan Afifah, putrinya sendiri. Etek Rasidah mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya. Sebilah belati. Dia lalu menyerahkan belati itu pada Afifah. Bergetar tangan Afifah menyambut belati itu. Wajah etek Rasidah kala itu sangat dingin. Seperti elang yang hendak mencengkram mangsanya. Belum pernah Afifah melihat wajah etek Rasidah seperti itu. Etek Rasidah berdiri dari tempat duduknya dan pergi menuju rumah meninggalkan Afifah. Tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Jangan lupa Afifah, malam ini kau harus bunuh mereka dengan belati itu!”
***
Lelaki itu telah tertidur pulas di kamarnya bersama istri barunya itu. Sementara Afifah, dia diam terpaku menatap foto ibunya sambil memegang sebilah belati yang di berikan etek Rasidah. Batinnya benar-benar berkecamuk malam itu. Matanya terpejam. Air mata kembali menetes dari bola mata hitam itu. Lalu dibukanya mata perlahan. Tekadnya sudah bulat. Dia harus membunuh lelaki itu. Tidak besok, tidak lusa, tapi sekarang. Malam ini. Dia tengah tertidur lelap. Ini kesempatan Afifah untuk menghabisi nyawa lelaki itu. Perlahan, Afifah bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki pelan-pelan. Ketika sampai di depan pintu kamar, Afifah membuka pintu itu. Ternyata lelaki itu lupa mengunci pintu. Biasanya pintu itu selalu terkunci ketika dia sedang tidur malam. Ketika sampai di dalam kamar, Afifah berdiri terpaku menatap wajah lelaki itu. Afifah lalu tersenyum seolah mengucapkan selamat tinggal pada lelaki itu. Diayunkannya belati itu ke atas dan…
Zreppp!!! Darah mengucur dari tubuh lelaki itu.
“Bang!!!” Perempuan itu menjerit ketika menyadari suami barunya telah bersimbah darah. Afifah mencabut belati yang menancap di tubuh lelaki itu. Dadanya bocor. Dia telah mati. Dia sudah tidak bisa berbuat apapun pada Afifah. Afifah mendekati perempuan itu.
“Jangan…, jangan Afifah.” Pinta perempuan itu sambil menangis. Afifah duduk di samping perempuan itu. Ditatapnya perempuan itu dalam sambil tersenyum. Perempuan itu juga menatapnya. Afifah lalu memeluk perempuan itu, perempuan itu juga memeluknya erat sambil membelai rambutnya. Ketika perempuan itu sedang asyik memeluk dan membelainya, Afifah menghunuskan belati itu tepat di jantung perempuan itu. Perempuan itu terkulai lemas dan melepaskan Afifah dari pelukannya. Mereka sudah mati. Afifah telah membunuh mereka. Tapi, tiba-tiba rasa sesal menelusup ke dalam sukma Afifah. Afifah tersadar dari apa yang baru saja dilakukannya. Afifah beranjak dari kamar berdarah itu. Dia buka pintu rumah dan berlari sekencang-kencangnya ke laut. Dia berteriak sekencang-kencanngya. Malam itu angin bertiup sangat kencang. Di laut sedang badai. Laut seakan tahu apa yang sedang Afifah rasakan. Afifah bersimpuh lemas di hadapan laut. Dia telah menghabisi nyawa Badrun, ayahnya sendiri. Nanar ditatapnya tangan dan bajunya yang berlumuran darah. Belati pemberian etek Rasidah masih tergenggam di tangan kanannya. Afifah tertunduk lemas. Samar-samar dia mendengar langkah kaki seseorang berjalan mendekatinya. Etek Rasidah…
“Ha ha ha!!! Bagus Afifah! Kau telah melakukannya! Kau, kau telah membunuh Badrun, Ayahmu sendiri! Ha ha ha!!”
Afifah mengangkat wajahnya dan menatap etek Rasidah yang tengah tertawa bahagia. Apa yang terjadi dengan perempuan itu? Begitu bahagianya dia ketika mengetahui Afifah telah membunuh ayahnya? Afifah kemudian berdiri dan berjalan ke arah etek Rasidah. Diambilnya sebatang kayu, dituliskannya sesuatu di atas pasir
Kenapa kau menyuruh aku membunuhnya?
“Kau mau tahu kenapa?! Karena aku mencintai ayahmu! Aku tidak ingin dia menikah dengan perempuan lain. Tapi, setelah aku tahu dia menikah dengan perempuan lain, aku berbalik menjadi membencinya. Sebab itulah, aku menyuruhmu membunuhnya! Karena aku tidak mau melihat dia bahagia bersama perempuan lain selain aku!”
Duarrrr!!! Bagai diksengat listri ribuan volt, Afifah tidak percaya dengan apa yang di katakan etek Rasidah. Perempuan itu, ternyata diam-diam mencintai ayahnya.
“Dan, kau mau tahu siapa penjahat bertopeng yang membunuh ibumu?” Lanjut etek Rasidah lagi. Ketika mendengar pertanyaan etek Rasidah yang demikian itu, Afifah menatap etek Rasidah dengan mata berapi-api. Dia tuliskan lagi sesuatu di atas pasir.
Siapa? Siapa penjahat bertopeng itu? Siapa yang telah tega membunuh ibuku?
“Aku!!! Aku yang telah membunuh ibumu, Afifah. Karena aku sangat membenci ibumu! Ha ha ha!” Jawab etek Rasidah sambil tertawa bangga. Bangga karena dia telah berhasil mengelabui Afifah. Afifah benar-benar geram mendengar perkataan etek Rasidah. Pisau belati itu masih tergenggam erat di tangan kanannya. Dia tuliskan lagi sesuatu diatas pasir
Terima kasih, etek Rasidah!
Dipeluknya etek Rasidah. etek Rasidah membelai rambutnya lembut sambil mencium kepalanya. Rembulan malam itu tidak bersinar. Entah kemana rembulan pergi. Bintangpun tidak ada bergelayut di panggung langit. Afifah memandang lurus kearah laut, masih dalam pelukan etek Rasidah. Dipandangnya pisau belati di tangan kanannya. Etek Rasidah masih membelai rambutnya lembut. Saat itulah, Afifah mengayunkan belati itu dan menghunuskannya ke tubuh etek Rasidah.
“A…Afifah…, k…kau…!”
Perempuan itu pun ambruk seketika. Belati itu masih menempel di tubuhnya. Afifah tidak sertamerta mecabut belati itu dari tubuh perempuan yang telah membunuh ibunya, dan telah membuat dia membunuh ayahnya. Biarkan perempuan itu mati membawa pisau belati itu. Pisau belati yang sejatinya adalah miliknya sendiri. Dia tidak pernah menyangka semua akan berakhir demikian. Orang yang selama ini menolongnya, menyayanginya, membelanya, ternyata dia penjahat bertopeng yang telah membunuh ibunya. Pandan malam itu bukan semburat jingga, tapi berselimut pekat malam. Pandan malam itu berdarah. Pandan bukanlah lagi menjadi surga baginya. Pandan benar-benar telah menjadi neraka. Bukan karena perlakuan ayahnya pandan menjadi neraka, tapi karena sesal di dirinya. Sesal karena dia telah membunuh Badrun, ayahnya sendiri.

Medan, 20 Januari 2010
Kala subuh menjelang…

By : Musyafir Malam

Comments (2) »